Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

tiadalah menjahoet salam Aboe Nawas itoe. Maka titah Baginda: „Ja Aboe Nawas! Kerdja apakah pekerdjaanmoe tadi, mendatangkan ketakoetan kepada segala orang dan pegawai sekaliannja? Semoeanja lan djatoeh bangoen: ada jang loeka moekanja, ada jang loeka kakinja, ada jang loeka tangannja dan ada jang loeka kepalanja, masing-masing itoe sebab perboeatan-

moe itoe djoega." . .

"Uaka Aboe Nawas poen berdiamkan dinnja. Maka

bertitah poela Baginda: „Adjarkanlah 'ilmoe^itoe ke-

nadakoe!" Sembah Aboe Nawas: „Ja Sjah alam.

Adapoen 'ilmoe itoe tiada boleh patik adjarkan kepada

seorang djoeapoen; kalau patik adjarkan, nistjaja ma-

tilah patik; demikian kata goeroe patik walioe'llah

jang besar lagi keramat itoe."

Setelah didengar olSh Soeltan Haroenoe rrasj.d akan perkataan Aboe Nawas jang demikian itoe, maka titah Baginda kepada Aboe Nawas: „Dan pada han ini djanganlah engkau sekali-kali datang keistanakoe ini lagi, melintas poen djangan engkau! Demi didengar Aboe Nawas titah Baginda itoe, maka ïapoen poelanglah keroemahnja.

52. Hikajat Nachoda Moeda.

Adalah soeatoe negeri bernama 'A^nawi, terlaloe amat besar keradjaannja dan beberapa hoeloebalang jang teramat gagah dan beram tiada membilangkan lawannja serta dengan kebesarannja. Maka radja negeri

Sluiten