Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

berkatalah derwis itoe, katanja: „Toean! Senang benarlah hati hamba pada malam ini berdjoempa dengan toean, bersoeka-soekaan sebagai orang jang telah lama berkenalan; tetapi karena ësok hari kita akan mentjahari rezeki kita, baiklah kita berhenti dahoeloe, soepaja bolëh kita tidoer."

„Benarlah kata toeanhamba itoe; marilah kita tidoer !"

„Boekan begitoe, toean; biarlah hamba kembali, hanja hamba minta tanja dimanakah hamba nantikan toean ?"

„Nantikan sadjalah hamba dipintoe rimba, karena dari sitoelah hamba biasa masoek."

„Baiklah; hamba mohon!"

„Silakan!"

„Assalamoe 'alaikoem!"^

„Wa 'alaikoemoe 'ssalam! Ingat ësok djangan loepa, poekoel delapan pagi toean ada dipintoe rimba."

„Baiklah! Siapakah nama toeanhamba?"

„Nama hamba Sjëch Makboel."

Sjahdan maka Baginda bersegeralah kembali keïstana, takoet kalau-kalau kesiangan; siapa tahoe, diketahoei orang kelak. Maka sepandjang djalan ta' soedahlah Baginda memikirkan hal baik boedi orang itoe, hidoep dengan senang hatinja, tetap dalam pentjaharian dan diam didalam pondok jang seboeroek itoe. Maka semalam-malaman itoe Baginda tiada beradoe baiang sekedjap, dan tatkala sianglah hari maka segeralah Baginda menitahkan menteri-menteri, soepaja djangan seorang djoeapoen diizinkan mengambil kajoe, kaïena

Sluiten