Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

Oesah kaudjawab lagi! Akoe ta' sempat; enjahlah engkau, pergilah!"

Mendengar kata benara itoe, maka terkedjoetlah Sjëch Makboel: berdiri memangkoe tangan sambil toendoek kepalanja, hampir terbit air matanja. Katanja: „Mati hamba ta' makan, toean! Kasih ..

„Kasih, kasih..., apa kasihan? Sebab engkau maka akoe dimoerkaï Baginda; pergilah!"

„Allah toe ..."

„Apa Allah, apa? — Kalau engkau ta' hendak pergi, koeteriakkan engkau maling!"

Maka hati Makboel terlaloe amat iba sekali dan seakan-akan poetoes 'akalnja; maka pergilah ia sambil memikirkan halnja. Dimanakah ia akan berolSh iezekinja? Maka dinanti-nantinja djoega kawannja derwis, soepaja bolSh diadjak moepakat tentang peri hal kehidoepannja; akan tetapi derwis itoe poen ta djoega datang. Maka olëh sebab ta' djoega nampak, maka poetoeslah asanja, laloe berdjalanlah ia kesana kemari dengan hati jang tiada tetap.

Allah ta'ala kaja soenggoeh! Tengah ia berdjalan dengan berpikir itoe, maka sampailah ia kepada perhimpoenan laskar jang sedang beladjar baris. Maka berhentilah ia melihatkan tingkah lakoe laskar itoe doedoek, tegak, berdjalan, berlari, menëmbak dan sebagainja, beratoer dengan menoeroet perintah penghoeloenja. Maka berpikirlah Sjëch Makboel : „Akoe kira baiklah akoe mendjadi laskar; makan dapat, pakaian dapat; roemah bagoes, perkerdjaan begitoe moedah sadja. Sebentar akoe pandai; tidak sebagai si

Sluiten