Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

tiba diroemah dikerdjakannjalah sebagai wiridnja itoe, hingga datanglah poela Baginda. Maka setelah merëka itoe makan minoem, menari, bergamboes dan bernjanji, maka kata Sjëch Makboel: „Hai derwis kekasihkoe, lihatlah ini!" — laloe dihoenoesnja pedangnja jang soedah digantinja dengan bilah, ditoendjoekkannja

kepada Baginda.

Maka derwis itoe memandangi pedang bilah dengan hëran dan tertjengang dan beberapa kali beroelangoelang menentang mata Sjëch Makboel, laloe katanja: „Apa itoe? Bilah?"

Sjëch Makboel itoe poen menganggoek, tangannja digëlëng-gelëngkannja isjarat membatinkan rahsia itoe, dan berkata perlahan-lahan dengan nafas pandjang: „Tjelaka, tjelaka! Kalau diketahoei penghoeloekoe, nistjaja sampai kepada Baginda.... O, o, tjelakalah akoe!"

„Apa moelanja maka begini?"

„Tatkala oeangkoe telah habis dan tiada akoe dapat 'akal akan berolëh ini," — (tangannja menoendjoek kepada makanan itoe) — „maka koetjaboet mata pedangkoe, koegadaikan kepada seorang saudagar seroepiah; itoelah jang seroepiah itoe. Sebab itoe rahsia ini djangan engkau chabarkan kepada seorang djoeapoen. Banjak-banjaklah do'amoe soepaja selamat akoe, karena doea hari lagi akoe akan menerima gadji; bolëhlah akoe meneboes mata pedang itoe."

„Masakan hamba hendak memboekakan rahsia ini! Tetapi bagaimana hal toean êsok hari?"

„Allah ta'ala kaja. Masa kita ta'kan dapat rezeki!"

Sluiten