Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

dang; soeroeh ia bermain pedang lebih dahoeloe, kemoedian sambil bersilat, ia memantjoeng dajang-dajang itoe!"

„Toeankoe! — Arnoes! Bersilatlah engkau lebih dahoeloe, kemoedian baharoe memantjoeng!"

Mendengar perintgih penghoeloenja, maka tampillah Arnoes laloe bermain pedang. Demi dilihat Baginda ia bersilat itoe, maka titahnja: „Penghoeloe laskar, mari! Orang itoe beloem pandai bermain pedang; djangan ia disoeroeh memantjoeng. Jang lain poela!

Sembah penghoeloe laskar: „Toeankoe!" laloe katanja: „Bahram, engkau!"

Permainan Bahram poen tiada berkenan kepada Baginda; maka titah Baginda: „Penghoeloe laskar, mari! Ta' ada kiranja jang pandai? Orang ini ta' tahoe. Soeroeh seorang jang lain lagi!"

Demikianlah titah Radja: lepas seorang, seorang, hingga penghabisannja sampai kepada Makboel. Maka tatkala Baginda melihat Makboel, hampir tiada tertahan hati Baginda djangan tertawa, karena teringat akan pedang bilah si Makboel itoe. Maka Makboel poen bersilatlah. Baik ta' baik, melainkan dibaikkan Baginda; laloe Baginda memanggil penghoeloe laskar menjoeroeh berhenti sebentar orang jang bersilat itoe. Maka sabda Baginda: „Hai penghoeloe laskar, siapa nama orang itoe? Berapa lama ia soedah mendjadi laskar?"

„Toeankoe, adapoen nama patik itoe Makboel, toeankoe! Patik itoe orang baharoe, tetapi segera djoega ia pandai."

Sluiten