Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

„Soeroeh lah dia memantjoeng, tetapi lebih dahoeloe djoega ia bersilat!"

„Toeankoe!.... Makboel! Pada hari ini engkau dititahkan Baginda memantjoeng dajang-dajang itoe; segeralah kerdjakan!"

Maka Makboel poen berdatang sembah kepada Baginda, sembahnja: „Harap diampoen sembah patik jang hina leta ini, beriboe-riboe ampoen kebawah doeli toeankoe Sjah 'alam! Adapoen patik ini dititahkan memboeangkan patik itoe, akan tetapi.... Ampoen, beriboe-riboe ampoen kebawah doeli toeankoe Sjah' 'alam! Adapoen pedang patik ini, menoeroet sepandjang mimpi patik, ia bertoeah. Djikalau kiranja patik itoe tiada berdosa kelak, bolëh dilihat kekajaan Allah soebhanahoe wata'ala, toeankoe!"

„Ah!" — (hampir-hampir tida' tertahan Radja akan tertawa) „Djanganlah engkau berbanjak-banjak tjakap; kerdjakan sadjalah, soedah! Masakan kedjadian apa-apa?! Kerdjakanlah segera-segera!"

Sjahdan maka Makboel poen bermain tanganlah dengan tjakapnja, serta hatinja berdebar-debar. Setelah sedjoeroes ia bermain itoe, maka dihampirinja dajangdajang itoe karena akan dipantjoengnja. Maka dengan tjakap dan pantas ia menghoenoes pedangnja itoe, laloe diparapnja lëhër dajang-dajang itoe. Maka sebetoelnja patahlah pedang itoe dengan koeasa Allah; maka laloe patahan pedang bilah itoe dipoengoet olëh Makboel, dipersembahkannja kebawah doeli Baginda. Maka pada ketika itoe djoega Baginda poen tertawa gelak-gelak dengan tiada terkira-kira, hingga ta' di-

Sluiten