Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

itoepoen bermoepakatlah. Maka kata koetjing: „Hai saudarakoe kedoeanja, bagaimana sekarang bitjara kita? Adapoen tjintjin toean kita itoe soenggoehlah ada pada si Toerani itoe, akan tetapi terlaloe soekar sekaü mendapat tjintjin itoe; karena djika hari malam disimpannja dida'.am moeloetnja, dan apabila siang hari diletakkannja didalam ikat pinggangnja; dan soedah begitoe lama ham ba tiada bertjerai dengan si Toerani itoe. Sekarangpoen apalah 'akal bitjara saudarakoe kedoeanja?'' Maka kata tikoes: „Hai saudarakoe! Adapoen bitjara hamba tiadalah pandjang. melainkan g&qtoeng. malang malang . djoea; djikalau oentoeng selamat, selamat djoea. Karena dahoeloe soedahlah hamba rasa, tatkala hidoeng hamba ditjotjok marmoes dengan ëkornja, disana baroe ^menanggoeng'^azab"dari pada perasaan hamba dan bersin-bersin; berbagaibagailah jang keloear dari dalam hidoeng dan moeloet Ramba. Demikianlah bolêh dapat 'akal bitjara hamba mentjotjok hidoeng Toerani itoe dengan ëkor hamba, soepaja keloear tjintjin toean kita itoe dari dalam moeloet si Toerani itoe. Akan tetapi, apalah djadinja keloear sahadja? Siapalah menangkapnja? Ta' dapat tiada akoelah jang mengeloearkan tjintjin itoe."

Maka kata koetjing: „Hai saudarakoe! Djikalau keloear tjintjin toean kita itoe dari dalam moeloet si Toerani, maka ta'dapat tiada hambalah jang menangkapnja; akan tetapi djikalau tertangkap, apalah djadinja? Siapalah jang membawa hamba lari? — karena hamba ini tiada koeat berlari; dapat djoea olëh orang jang berkawal." Maka kata andjing: „Hai saudarakoe,

Sluiten