Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

a inja. „Akoe ini soeatoe soeltan, jang empoenja keradjaan didalam negeri Bagdad; akoe poen berolëh makanan sekian ini!" Maka minta sjoekoer Baginda kepada Allah ta'ala; laloe didjamahnja nasi itoe sedikit, dimasoekkannja kedalam moeloetnja, karena itoelah rezekinja, jang dianoegerahkan Allah ta'ala kepadanja. Setelah soedah makan, maka Baginda poen berpikir didalam hatinja: „Aboe Nawas itoe, kemana gerangan perginja dan dihoetan mana ia sekarang ini? Diboenoeh orangkah, karena tiada tampak?" Maka Baginda poen hëranlah akan dirinja.

Alkissah maka terseboetlah perkataan orang didalam istana Amiroe'lmoe'minin. Karena Baginda tiada didalam istana itoe, maka hiroe haralah sekalian orang didalam istana; tetapi beloem lagi diketahoei orang didalam negeri itoe. Setelah hari siang maka Badoei itoepoen memben sebilah parang kepada tangan Soeltan Haroenoe'rrasjid, disoeroehnja membelah kajoe. Maka Baginda poen mengambil parang itoe, laloe dibelahkannja belakang parang itoe. Serta dilihat olëh Badoei akan hal itoe, maka Badoei itoe berpikir didalam hatinja: „Orang mana gerangan ini?" Maka Badoei itoe bertanja, katanja: „Mengapakah maka engkau membelah kajoe dengan belakang parang?" Sahoet Baginda: „Adapoen hamba ini tiada tahoe akan

pekerdjaan jang demikian ini, karena hamba tiada biasa,

Setelah itoe maka radja itoe poen bertanja kepada

Sluiten