Onderstaande tekst is niet 100% betrouwbaar

djoega pada malam ini. Maka Baginda poen beis?)op. „Ja Fattah, ja Razzak!"

„Engkau derwis, masoeklah; tolakkan sadjalah pin-

toe; ta' berkoentji!"

„Assalamoe 'alaikoem!"

„Wa 'alaikoemoe 'ssalam! Mengapa engkau bohong? Poeas hamba menantikan engkau dipintoe rimba,

haram tampak!"

„Djanganlah toeanhamba inarah, ja Sjech! Sesoenggoehnja hamba datang djoega kepintoe rimba, tetapi

terlambat, sedikit, olëh 'oezoer sedikit. Tetapi

„Tetapi, tiada bertemoe dengan hamba, sebab sesoedah hamba nantikan engkau sedjoeroes, ta' tampak djoega, laloelah hamba kepasar."

„Ia benarlah ta' kelihatan toean disitoe. Mengapa toean kepasar; tiadakah toean pergi berkajoe?" „Ma sja Allah, ma sja Allah!"

„Mengapa; mengapa?"

„Ah, nantilah hamba tjeriterakan; marilah kitamakan minoem dahoeloe, laloe bermain-main sedikit, soepaja senang hati dahoeloe. Allah ta'ala kaja soenggoeh!

Maka Sjëch Makboel itoepoen mementing gamboesnja sambil bernjanji dan tegak, laloe menari seorang dirinja. Dalam pada itoepoen Baginda hëran benar melihat keadaan orang jang begitoe, tiada menaioeh doekatjita; patoetlah toeboehnja segemoek itoe, lagi poela berminjak. Sedang Baginda berpikir demikian itoe, maka kata Sjëch Makboel: „Sekarang datanglah kepada pergantianmoe; engkau poela menari dan ber-

lagoe!"

Sluiten